Home › Iwan Effendi: Dari Pensil, Lukisan, Instalasi sampai Teater Boneka

Iwan Effendi: Dari Pensil, Lukisan, Instalasi sampai Teater Boneka

Januari 21st, 2013 - by: admin - No Comments »
Oleh : Maria Tri Sulistyani *)NOKNsays: Iwan Effendi adalah seniman muda dari Jogja yang berkolaborasi dengan NOKNbag dalam Proyek NOKNjam, lihat karya Iwan Effendi

Dikenal sebagai perupa dan juga Direktur Artistik Papermoon Puppet Theatre, Iwan Effendi memulai jejak karirnya sebagai seniman sejak tahun 2005, saat ia menyelesaikan studinya di Institut Seni Indonesia. Sejak awal, Iwan Effendi selalu percaya dengan kekuatan dukungan publik dalam keberhasilannya dalam berkarya.Menggelar pameran tunggal pertamanya di sebuah kedai kopi di utara Jogja dengan tajuk Menuju Matahari Terbenam, ia bahkan sempat mengeluarkan ungkapan bahwa Everyone can be a collector. Karya-karya yang ia pamerkan kala itupun banyak dibeli dan dikoleksi oleh anak-anak muda kuliahan di Yogyakarta. Dari situlah ia mulai dikenal lebih luas oleh kalangan anak muda kreatif . Di awal karirnya, ia pun sempat melebarkan sayapnya sebagai ilustrator, desainer, bahkan project officer acara seni dan budaya di Jogja.Beberapa orang sempat memasukkan saya dalam kategori seniman Lowbrow, dan saya nggak merasa begitu.Iwan memang mengaku bahwa ia sempat juga menjadikan majalah Juxtapos sebagai salah satu acuannya dalam berkarya. Hal itu juga tak terlepas dari kehadiran internet sebagai jendela untuknya dalam berkarya. Selama beberapa tahun ia sempat mempelajari teknik-teknik yang dihadirkan di halaman-halaman majalah tersebut, dan berusaha memahami apa yang ingin disampaikan oleh seniman-seniman Amerika itu melalui karya-karyanya.Label seniman lowbrow pun sempat ditempelkan padanya. Beberapa penulis bahkan sempat menunjuk aktivitas grafiti di jalan yang ia pernah lakukan sesekali itu sebagai kriteria lowbrow yang terasa pas buatnya.

Sampai akhirnya Iwan sempat mendapat kesempatan menjadi seniman residensi selama 6 bulan di New York. Sebuah kesempatan yang ternyata membuatnya belajar banyak, melihat dan merasakan apa yang melatarbelakangi para seniman idolanya itu. Bahwa menjadi seniman, tenyata berarti mempunyai kemampuan untuk mengajak orang untuk membaca lagi masalah sekaligus memberi jarak pada masalah yang ada. Dan itu telah membawanya pada sebuah titik balik. Ternyata ini bukan hanya masalah visual, lelehan cat, dan gambar-gambar tengkorak.Dari Pensil, Lukisan, Instalasi sampai Teater BonekaIwan Effendi juga dikenal sebagai seniman yang cukup intens melakukan banyak eksperimen. Karya-karyanya banyak dituangkan dalam media kertas, kanvas, kemudian melompat ke instalasi mekanik yang interaktif, dan bahkan ditampilkan di atas panggung dalam pementasan teater boneka. Saat ditanya mengenai pilihan medianya dalam membuat karya, Iwan mengaku punya alasan berbeda atas medium yang ia pilih. Menorehkan garis-garis di kertas bertekstur baginya adalah mencurahkan isi hatinya pada dirinya sendiri. Menggambar di atas kertas ibarat membuat visual diary buat saya, rasanya kayak curhat, bicara pada diri sendiri. Sedangkan melukis dengan cat adalah taman bermain baginya. Mengolah warna dan membuat bentuk di atas kayu atau kanvas membawanya pada pengalaman bermain yang terkadang mengasyikkan meskipun terkadang juga menguras energi.

Di sisi lain, eksplorasinya pada instalasi 3 dimensi telah membawanya pada proses berinteraksi dengan orang lain. Jika kebanyakan karya seni rupa tidak diperbolehkan untuk disentuh, Iwan justru kerap mengundang publik untuk memegang, menggerakkan dan merespon karyanya. Sekali lagi, ia sangat memperhitungkan keberadaan orang lain untuk menghidupkan karyanya.

Teater boneka adalah salah satu medium yang sudah ia tekuni selama 6 tahun terakhir. Sebuah masa yang tidak sebentar untuk seorang perupa yang biasa bekerja sendiri di studionya untuk saling berbagi isi kepalanya dengan orang lain. Sebagai Direktur Artisitik Papermoon Puppet Theatre, ia adalah orang yang bertanggung jawab atas apa yang akan dilihat penonton di atas panggung. Baginya, bekerja dengan Papermoon adalah betuk sosialisasinya dengan banyak orang.Rasanya seperti melihat gambar dan lukisan saya dihidupkan di atas panggung, dan rasanya beda ketika orang-orang meluangkan satu jam dalam hidupnya untuk mengapresiasi karya saya.

****

*) Maria Tri Sulistyani alias Ria Papermoon adalah seniman penggagas dan Asisten Direktur Artistik di Papermoon Puppet Theatre, sekaligus adalah istri dari Iwan Effendi :)**) Foto-foto oleh Dito Yuwono, Hera Ariyani dan koleksi Iwan Effendi
Add Comment

 
NOKN ARCHIVE
BLOG CATEGORIES
WHAT PEOPLE TWEET